Prasangka Pudar, Konflik Bubar

Prasangka terlahir ketika orang menilai ada perbedaan yang mencolok. Artinya keadaaan atau status yang tidak seimbanglah yang akan melahirkan prasangka. Pada masyarakat yang perbedaan status anggotanya begitu tajam, prasangka cenderung sangat kuat. Sebaliknya bila status sosial ekonomi relatif setara, prasangka yang ada kurang kuat.

Prasangka (yang biasanyprasangkaa negatif) adalah sikap antipati yang berlandaskan pada cara generalisasi yang salah dan tidak fleksibel. Prasangka adalah sikap negatif yang ditujukan pada seseorang atau kelompok atas perbandingan sendiri atau kelompoknya sendiri, ujar Debora Basaria Yulianti,M.psi, clinical pshychologist di Universitas Bunda Mulia.

Prasangka memiliki tiga karakteristik utama yaitu stereotip, jarak sosial dan sikap diskriminasi. Ketiga faktor tersebut saling terkait. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi.

Ada 2 faktor yang menimbulkan diskriminasi, yakni faktor sosial dan faktor individual. Faktor sosial antara lain konflik sosial antar individu dan antar kelompok, perubahan sosial yang tidak adil, terbatasnya sumber daya dan politisasi pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari prasangka tersebut. Sedangkan faktor individual antara lain cara berfikir, kepribadian dan pengaruh belajar sosial.

Bahayanya prasangka terus menerus berdiam diri, kita tidak bisa berhubungan dengan orang lain, karena belum apa-apa kita sudah memberi cap pada orang lain, sudah menganggap mereka adalah lawan, sudah memberikan stereotip, mencap orang lain atau kelompok lain lebih buruk dari kita, ini bisa menjadi potensi timbulnya konflik, sebab kita tidak bisa berinteraksi dengan baik, menurut Dra.Winarini Wilman Dahlan,PhD, staff pengajar Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia. Prasangka merupakan salah satu hambatan terbesar dalam membangun hubungan antar individu yang baik, dan prasangka yang terjadi adalah ketegangan terus menerus dan rentan memicu terjadinya konflik.

3 Cara meredam kprasangka :

  1. Berfikir Positif, dengan berfikir positif kita akan selalu dapat melihat kebaikan orang lain, sehingga menghindarkan kita dari prasangka buruk.
  2. Lengkapi Informasi, mengecek dengan teliti benar atau tidaknya dugaan kita terhadap orang lain, akan membantu menghilangkan prasangka buruk kepada orang tersebut.
  3. Perluas Pergaulan, carilah teman sebanyak-banyaknya dan jangan membatasi pergaulan hanya dengan orang-orang tertentu saja.

Adanya prasangka merupakan kejadian yang alamiah dan wajar,tapi kalau prasangkanya hanya yang buruk-buruk saja bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain karena bisa menimbulkan konflik baik dengan diri sendiri maupun dengan orang atau kelompok lain dan ini sangat merugikan…mulai sekarang cobalah kita berprasangka yang baik-baik terhadap siapapun 🙂

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.